Tampilkan postingan dengan label Tugas individu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas individu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Maret 2010

Hasil Karyaku; tugas 3

CAHAYA KEBERHASILAN
Oleh Kurnia

Ku langkahkan kakiku menuju kampus biruku
Duduk terpana dengan bukuku
Menggoreskan tinta di kertas putihku
Menerawang ke depan memandang masa depanku



Semangatku berkobar bagai api
Membakar raga hingga ke jiwa
Bagai debur ombak yang kuat
Menghembus batu karang yang kokoh

Semangatku tak terpudarkan
Sudah menusuk ke tulangku
Tekad keberhasilan mengalir dalam darah
Memancarkan cahaya di kehidupan



Hingga pada akhirnya nanti
Cahaya keberhasilan dalam gemgaman
Memberikan keindahan yang amat sangat
Dan mengeluarkan aroma seharum bunga




Nama : Kurnia Lumbanbatu
NIM : 091301021
Tanggal : 11 Maret 2010

Selasa, 23 Februari 2010

Internet Meningkatkan Kualitas Belajar dalam Proses Belajar Mengajar?; tugas 2

Pengertian Internet
Internet adalah singkatan dari Interconnection Network, yang artinya adalah hubungan antar jaringan komputer. Sedangkan network berarti suatu sistem komunikasi data antar komputer. Lalu ada juga yang mengartikan bahwa internet adalah jaringan komputer luas dan besar yang mendunia, yang menghubungkan pemakai komputer dari satu negara ke negara lainnya di seluruh dunia, di mana di dalamnya terdapat berbagai sumber daya informasi dari mulai yang statis hingga yang dinamis.

Proses Belajar Mengajar
Belajar dan mengajar adalah dua aktivitas yang hampir tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya, terutama dalam prakteknya di sekolah-sekolah. Bahkan apabila keduanya telah digerakkan secara sadar dan bertujuan, maka rangkaian interaksi belajar mengajar akan segera terjadi.
Proses belajar mengajar tradisional atau pendektan pembelajaran yang konvensional ditandai dengan guru mengajar lebih banyak tentang konsep-konsep bukan kompetensi, tujuannya adalah siswa mengetahui sesuatu bukan mampu untuk melakukan sesuatu, dan pada saat proses pembelajaran siswa lebih banyak mendengarkan. Di sini terlihat bahwa pendekatan konvensional yang dimaksud adalah proses pembelajaran yang lebih banyak didominasi gurunya sebagai “pen-transfer” ilmu, sementara siswa lebih pasif sebagai “penerima” ilmu. Dijelaskannya bahwa pengajaran tradisional yang berpusat pada guru adalah perilaku pengajaran yang paling umum yang diterapkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia. Pengajaran model ini dipandang efektif, terutama untuk:
a. Berbagi informasi yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.
b. Menyampaikan informasi dengan cepat.
c. Membangkitkan minat akan informasi.
d. Mengajari siswa yang cara belajar terbaiknya dengan mendengarkan.

Namun demikian pendekatan pembelajaran tersebut mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut:
a. Tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan mendengarkan.
b. Sering terjadi kesulitan untuk menjaga agar siswa tetap tertarik dengan apa yang dipelajari.
c. Pendekatan tersebut cenderung tidak memerlukan pemikiran yang kritis.
d. Pendekatan tersebut mengasumsikan bahwa cara belajar siswa itu sama dan tidak bersifat pribadi.
Proses belajar mengajar modern merupakan pembelajaran dengan menggunakan media atau jasa bantuan perangkat elektronika. Misalnya proses belajar mengajar dengan menggunakan internet yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah yang mempunyai fasilitas komputer yang memadai. Walaupun sebenarnya dapat juga diusahakan oleh sekolah yang tidak mempunyai fasilitas komputer misalnya dengan mendatangi warnet sebagai partner dalam proses belajar mengajar tersebut. Dalam hal ini, guru memberikan topik tertentu pada siswa, kemudian siswa mencari hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut dengan cara mencari (down load) dari internet. Guru juga dapat memberikan tugas-tugas ringan yang mengharuskan siswa mengakses dari internet. Siswa juga dapat belajar dari internet tentang hal-hal yang up to date yang berkaitan dengan pengetahuan. Guru dapat memberi tugas pada siswa untuk mencari suatu peristiwa mutakhir dari internet kemudian mendiskusikannya di kelas, lalu siswa menyusun laporan dari hasil diskusi tersebut.

Internet Meningkatkan Kualitas Belajar dalam Proses Belajar Mengajar?
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar modern dengan menggunakan internet dapat meningkatkan kualitas belajar dalam proses belajar mengajar. Metode-metode tersebut dapat dilakukan guru dengan model-model pembelajaran yang bervariasi supaya siswa semakin senang dan tertarik untuk mempelajarinya sehingga proses pembelajaran tersebut menjadi pembelajaran yang bermakna. Dengan pembelajaran berbasis internet diharapkan siswa akan terbiasa berpikir kritis dan mendorong siswa untuk menjadi pembelajar otodidak. Siswa juga akan terbiasa mencari berbagai informasi dari berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran ini juga mendidik siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam kelompok kecil maupun tim. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu dengan pembelajaran berbasis internet, maka pengetahuan dan wawasan siswa berkembang dan mampu meningkatkan hasil belajar siswa, dengan demikian kualitas proses belajar mengajar dan kualitas pendidikan juga akan meningkat.
Pembelajaran dengan internet juga dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar (enhance interactivity). Hal ini berbeda dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi. Hal ini dikarenakan pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini juga cenderung didominasi oleh beberapa peserta didik yang cepat tanggap dan berani. Sehingga peserta didik yang malu maupun yang ragu-ragu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas.
Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja. Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada instruktur begitu selesai dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan guru/dosen/instruktur. Peserta didik tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan konvensional. Sehingga siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan.
Daftar Pustaka :
Santrock.,J.W.(2008).Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group
Munir.,(2008).Kurikulum berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Bandung: Alfabeta

Nama : Kurnia J P Lumbanbatu
Tanggal : 23 Februari 2010

Sistem Kebut Semalam (SKS); tugas 1

Pengertian Sistem Kebut Semalam

Menurut saya secara pribadi dan berdasarkan pengalaman pribadi Sistem Kebut Semalam atau sering disingkat dengan SKS merupakan sistem atau cara belajar pelajar ataupun mahasiswa di mana mahasiswa tersebut mau belajar atau membaca bukunya jika besoknya ujian. Dengan kata lain waktu untuk belajar hanya satu malam.

Penyebab Sistem Kebut Semalam

Berdasarkan pengalaman pribadi, Sistem kebut semalam ini diterapkan karena saya kurang memahami tujuan pendidikan atau pembelajaran.

Di mana saya kurang menyadari tujuan pembelajaran yang diklasifikasikan ke dalam tiga domain yaitu:

1. Domain kognitif, yang mempunyai enam tingkatan yaitu:

  • Pengetahuan (knowledge), menunjukkan kemampuan mengingat kembali materi pembelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya.
  • Pemahaman (understand), menunjukkan kemampuan memahami materi pembelajaran. Kemampuan ini menyangkut penerjemahan, memberikan contoh, mengklasifikasikan, meringkas, berpendapat, membandingkan, dan menjelaskan.
  • Penerapan (aplication), kemampuan menerapkan materi pembelajaran yang sudah dipelajari ke dalam suatu keadaan yang baru. Dari penerapan ini akan mampu mengerjakan yaitu mengaplikasikan suatu prosedur/cara pada soal yang mudah, dan mengimplementasikan yaitu mengaplikasikan suatu prosedur/cara pada soal yang tidak mudah.
  • Analisis (analysis), kemampuan menguraikan sesuatu menjadi bagian-bagian, sehingga antar bagian itu dapat dimengerti. Analisis meliputi membedakan, mengorganisasikan, dan menghubungkan.
  • Sintesis (synthesis), kemampuan menghimpun bagian-bagian menjadi satu kesatuan. Dalam sintesis termasuk memeriksa dan mengkritisi.
  • Mengkreasi (create), kemampuan membuat kreasi/karya. Termasuk yaitu menghasilkan, merencanakan, dan memproduksi.

2. Domain Afektif, terdiri atas kemampuan menerima (receiving), kemampuan menanggapi (responding), berkeyakinan (valuing), penerapan karya (organisation), dan ketekunan serta ketelitian (characterization by a value complex).

3. Domain Psikomotor, kemampuan atau keterampilan baik manual maupun motorik, yaitu:

· Persepsi, berkaitan dengan pandangan indera dalam melakukan suatu kegiatan.

· Kesiapan, berkenaan dengan kesiapan melakukan suatu kegiatan yang meliputi mental, kesiapan fisik, atau kesiapan emosi-perasaan.

· Mekanisme, kegiatan respon yang sudah dipelajari dan sudah menjadi kebiasaan, sehingga gerakannya seperti refleks/otomatis menunjukkan pada suatu keahlian.

· Respon terbimbing, keterampilan melakukan respon yang terbimbing untuk meniru, atau mengikuti.

· Kemahiran, keterampilan yang menunjukkan kemahiran untuk menampilkan gerakan motorik dengan keterampilan penuh.

· Adaptasi, keterampilan yang sudah berkembang pada diri individu sehingga mampu memodifikasi pola gerakan sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu.

· Originasi, keterampilan menciptakan pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau masalah tertentu.

Dan juga saya hanya menganggap tujuan pembelajaran hanyalah mencapai nilai yang maksimal bukan menuntut ilmu. Sehingga saya hanya menggunakan metode menghafal bukan memahami ataupun mengerti.

Selain itu, penyebab saya melakukan sistem kebut semalam adalah penggunaan kata ”tunggu”. Saya sering menunggu-nunggu untuk mengulangi pelajaran, sehingga saya akhirnya jadi tidak belajar. Dan tanpa saya sadari, kata tunggu tersebut berlarut-larut hingga ujian mau dekat bahkan sudah di depan mata. Akhirnya mau tidak mau saya harus menggunakan sistem kebut semalam.

Akibat Sistem Kebut Semalam

Akibat dari sistem kebut semalam yang telah saya lakukan adalah materi yang saya hafal menjadi cepat dilupakan sehingga saya tidak memiliki ilmu pengetahuan tentang materi tersebut. Dan juga berakibat pada hasil ujian saya, di mana hasil ujian saya menjadi kurang memuaskan karena saya harus menguasai materi yang banyak dalam waktu yang singkat. Karena saya menggunakan sistem kebut semalam akibatnya ketika guru/dosen mangadakan ujian/kuis secara tiba-tiba maka dapat dipastikan saya tidak dapat menjawab ujian tersebut karena metode saya selama ini sistem kebut semalam.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem kebut semalam yang saya lakukan memiliki dampak yang buruk sehingga tidak seharusnya saya mengunakannya.

Daftar Pustaka :

Santrock.,J.W.(2008).Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group

Munir.,(2008).Kurikulum berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Bandung: Alfabeta

Nama : Kurnia J P Lumbanbatu

Tanggal : 23 Februari 2010

Selasa, 09 Februari 2010

Sistem Kebut Semalam (SKS); tugas 1

Pengertian Sistem Kebut Semalam
Sistem Kebut Semalam atau sering disingkat dengan SKS merupakan sistem atau cara belajar pelajar ataupun mahasiswa di mana mahasiswa tersebut mau belajar atau membaca bukunya jika besoknya ujian. Dengan kata lain waktu untuk belajar hanya satu malam.

Penyebab Sistem Kebut Semalam
Sistem kebut semalam ini diterapkan karena pelajar ataupun mahasiswa kurang memahami tujuan pendidikan atau pembelajaran. Di mana mahasiswa hanya menganggap tujuan pembelajaran hanyalah mencapai nilai yang maksimal bukan menuntut ilmu. Sehingga mahasiswa hanya menggunakan metode menghafal bukan memahami ataupun mengerti.
Mahasiswa kurang menyadari bahwa tujuan pembelajaran diklasifikasikan ke dalam tiga domain yaitu:
1. Domain kognitif, yang mempunyai enam tingkatan yaitu:
• Pengetahuan (knowledge), menunjukkan kemampuan mengingat kembali materi pembelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya.
• Pemahaman (understand), menunjukkan kemampuan memahami materi pembelajaran. Kemampuan ini menyangkut penerjemahan, memberikan contoh, mengklasifikasikan, meringkas, berpendapat, membandingkan, dan menjelaskan.
• Penerapan (aplication), kemampuan menerapkan materi pembelajaran yang sudah dipelajari ke dalam suatu keadaan yang baru. Dari penerapan ini akan mampu mengerjakan yaitu mengaplikasikan suatu prosedur/cara pada soal yang mudah, dan mengimplementasikan yaitu mengaplikasikan suatu prosedur/cara pada soal yang tidak mudah.
• Analisis (analysis), kemampuan menguraikan sesuatu menjadi bagian-bagian, sehingga antar bagian itu dapat dimengerti. Analisis meliputi membedakan, mengorganisasikan, dan menghubungkan.
• Sintesis (synthesis), kemampuan menghimpun bagian-bagian menjadi satu kesatuan. Dalam sintesis termasuk memeriksa dan mengkritisi.
• Mengkreasi (create), kemampuan membuat kreasi/karya. Termasuk yaitu menghasilkan, merencanakan, dan memproduksi.
2. Domain Afektif, terdiri atas kemampuan menerima (receiving), kemampuan menanggapi (responding), berkeyakinan (valuing), penerapan karya (organisation), dan ketekunan serta ketelitian (characterization by a value complex).
3. Domain Psikomotor, kemampuan atau keterampilan baik manual maupun motorik, yaitu:
• Persepsi, berkaitan dengan pandangan indera dalam melakukan suatu kegiatan.
• Kesiapan, berkenaan dengan kesiapan melakukan suatu kegiatan yang meliputi mental, kesiapan fisik, atau kesiapan emosi-perasaan.
• Mekanisme, kegiatan respon yang sudah dipelajari dan sudah menjadi kebiasaan, sehingga gerakannya seperti refleks/otomatis menunjukkan pada suatu keahlian.
• Respon terbimbing, keterampilan melakukan respon yang terbimbing untuk meniru, atau mengikuti.
• Kemahiran, keterampilan yang menunjukkan kemahiran untuk menampilkan gerakan motorik dengan keterampilan penuh.
• Adaptasi, keterampilan yang sudah berkembang pada diri individu sehingga mampu memodifikasi pola gerakan sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu.
• Originasi, keterampilan menciptakan pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau masalah tertentu.

Selain itu, mahasiswa juga kurang mngembangkan tiga jenis modul dalam pengembangan materi pembelajaran, yaitu:
1. modul penguatan, untuk menguatkan pembelajaran pengajar atau peserta didik
2. modul pengulangan, untuk peserta didik yang kurang paham dan perlu mengulangi lagi.
3. modul pengayaan, untuk peserta didik yang cepat paham dan memerlukan bahan tambahan sebagai pengayaan.

Sistem kebut semalam juga dapat disebabkan karena pada saat pembelajaran di kelas, pengajar tidak mengajak aktif peserta didik, sehingga peserta didik hanya datang, duduk, dan diam saja. Hal ini membuat peserta didik tidak mengulang kembali pelajaran yang baru diterimanya, namun mengulangnya pada saat mendekati ujian.

Akibat Sistem Kebut Semalam
Sistem kebut semalam dapat berakibat dengan hasil ujian peserta didik, di mana hasil ujian peserta didik menjadi kurang memuaskan. Karena banyak peserta didik yang menggunakan sistem kebut semalam, sehingga banyak hasil ujian yang kurang memuaskan. Akibat banyaknya hasil ujian yang kurang memuaskan maka pengajar atau guru yang akan dipersalahkan. Pengajar atau guru dianggap tidak mengajar dengan efektif. Pengajar juga dianggap tidak memiliki strategi pengajaran.


Daftar Pustaka :

Santrock.,J.W.(2008).Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group

Munir.,(2008).Kurikulum berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Bandung: Alfabeta

Nama : Kurnia J P Lumbanbatu
Tanggal : 09 Februari 2009